DAKWAH DENGAN HIKMAH DI ERA PLATINUM
بسم الله الرحمن الرحيم
Hati manusia akan condong kepada orang yang bersikap lemah lembut
kepadanya. Oleh karena itu, diantara kewajiban seorang da’I adalah memilih
metode yang lemah lembut atau tidak kasar, agar dakwah yang ia bangun dan emban
sampai kepada manusia dan tidak mendapat pertentangan.
Oleh sebab itu,
semua pendakwah dibimbing oleh Allah dan Rasul-Nya agar berdakwah dengan
hikmah, sehingga apa yang disampaikan kepada orang yang didakwahi sampai kepada
mereka. Akan tetapi, tidak selalunya pendakwah harus
mendakwahkan Islam dengan lemah lembut. Namun, kadangpula ada beberapa keadaan
tentunya tidak tepat untuk berlemah lembut, akan tetapi dengan tegas untuk
menyampaikannya. Berhikmah dalam berdakwah ditempatkan pada keadaan yang tepat.
A.
Makna
hikmah
Menurut definisi etimologi hikmah bermakna adil, ilmu,
halm(murah hati, lemah lembut), kenabian, Al-qur'an, dan Injil.[1]
Adapun menurut makna lain adalah menempatkan sesuatu pada
tempatnya;
وهو العليم الحكيم
“sesungguhnya
dia maha mengetahui dan maha bijaksana”[2]
Hakim di sini memiliki dua makna, yaitu memiliki hikmah,
tidak memerintahkan sesuatu kecuali dengan hikmah dan tidak melarang keculai
dengan hikmah.[3]
B. Dalil-dalil tentang berdakwah dengan dakwah
1. dari Al-qur’an
ادع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة و جادلهم بالتي هي أحسن
"ajaklah manusia kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan
pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan baik..”[4]
Allah ta’ala juga berfirman :
ولا تجادلوا أهل الكتاب إلا بالتي هي أحسن إلا الذين ظلموا
"dan janganlah kalian berdebat dengan ahlu kitab melainkan
dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang yang dzalim diantara
mereka..”[5]
Dan Allah berfirman :
فبما رحمة من الله لنت لهم ولو كنت فظا غليظ القلب لانفضوا من حولك
“maka
disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.
Sekiranya kami bersikap keras lagi berhati kasar, tentunlah mereka menjauhkan
diri dari sekelilingmu..”[6]
2. Dari As-sunnah
قال أبوموسى الأشعري : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا بعث أحدا من أصحابه في بعض أمره
قال بشروا ولا تنفروا ويسروا ولا تعسروا
Abu Musa Al-asy’ari berkata :”setiap kali Rasulullah
mengutus salah seorang dari sahabatnya pada suatu urusan tertentu beliau, maka
beliau bersabda :” sampaikan berita gembira dan janganlah membuat manusia lari
dari agama, mudahkanlah dan janganlah mempersulit”.[7]
C.
Bentuk
dakwah dengan hikmah
Dakwah disuatu lahan dakwah yang ajnabi
tidak langsung menyampaikan apa yang akan disampaikan kepada manusia, namun
harus menilik terlebih dahulu budaya, watak dan karakteristik masyarakatnya.
Dengan demikian, dakwah akan lebih mudah tersampaikan Karena sesuai dengan
kondisi wilayah dan masyarakat lahan dakwah dan tidak bersikap pukul rata.
Adapun-bentuk daripada dakwah dengan hikmah adalah :
1.
Menyampaikan
materi dakwah dengan dalil
Menyampaikan dakwah dengan dalil akan menciptakan objek dakwah yang
mengagungkan apa yang datang dari Al-qur’an dan Hadits. Begitupula setiap
amalan yang kerjakan dipastikan berhujjah dari apa yang ada di dalam Al-qur’an
dan hadits, dan tidak bersandar pada guru atau ustadz saja.
2.
Menyampaikan
dakwah sesuai dengan pemahaman mad’u
Dalam berdakwah seorang pendakwah tidak hanya menyampaikan
idealismenya saja. Namun, selayaknya bagi seorang pendakwah untuk menyesuaikan
cara berfikir mad’u, agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam cara
berfikir dan memahami suatu perkara apalagi mengenai permasahan syari’at.
Ali radiyallahu ‘anhu pernah berkata :
حدثوا الناس بما يعرفون,أتحبون أن يكذب الله
ورسوله؟
“sampaikan kepada manusia sesuai
dengan apa yang mereka ketahui, apakah kamu suka jika Allah dan Rasul-Nya
didustakan?”.[8]
3. Menggunakan metode yang tepat dalam berdakwah
Dalam berdakwah metode atau thariqoh sangat
berpengaruh di dalamnya, berperan besar
untuk membuka hati para objek dakwah, serta melapangkan hati mereka untuk
menerima kebenaran.
Maka benar jika ada ungkapan yang berbunyi,”at
thoriqoh ahammu minal maddah”, artinya metode itu lebih penting daripada
materi yang disampaikan. Oleh karena itu, bagi para pendakwah untuk
mempersiapkan metode apa yang sesuai digunakan untuk lahan dakwah yang ia
tempati saat itu.
D. aktualisasi dakwah dengan hikmah
1. Keadaan mad’u
Di era modern ini yang atau biasa disebut
dengan era platinum Karena semua manusia berkiblat pada teknologi,
segala aktivitas tidak lepas dari yang namanya teknologi. Contohnya, seorang sekretaris kantoran tentunya tidak lepas dari
computer, Karena perekaban data seputar perusahaan itu.
Begitupula dengan para pemuda di zaman ini, pandangan tidak lepas
untuk menatap layar ajaib baik itu smartphone, atau game online. Hal demikian membuat mereka
selalu sibuk dengan aktivitas itu, dan akibatnya mereka akan melupakan
urusan-urusan yang berkaitan dengan akhirat, seperti membaca Al-qur’an, dzikir,
bahkan sholat faraid tidak sedikit yang menunda melaksanakan atau bahkan
melupakannya.
2. Metode yang digunakan
Dikarenakan keadaan mad’u selalu bergelut dengan terkonologi, maka metode
penyampaian yang tepat bagi mereka adalah dengan membuat sebuah blog,
lalu blog tersebut sebagai tempat menuangkan tulisan-tulisan yang
berkaitan dengan dakwah kepada Islam. Sehingga para pekerja yang sibuk dengan
pekerjaannya di kantor tidak sempat untuk hadir di tempat pengajian dapat
membaca kajian agama dari blog tersebut.
3. Materi yang disampaikan
Berkaitan dengan materi yang disampaikan
kepada mereka adalah materi yang cakupannya hanya dasar, yaitu materi yang
wajib hadir di tempat majlis pengajian maka wajib untuk hadir atau wajib
mulazamah.
Contohnya,
jika materi yang disampaikan berkaitan dengan aqidah maka yang disampaikan awal
mula adalah berkaitan dengan iman, tauhid, dll. Adapun materi mulazamah seperti
alwala’ wal bara’ itu harus secara mulazamah bukan otodidak.
oleh : fahri_azhar12
[2] Qs. At tahrim : 2
[3] muhammad bin sholih bin muhammad al
utsaimin, mudzakarah alal aqidah al wasatiyah,(Riyadh, madharaul watni
lin nasyr, 1426 h), hal. 19
[4] Qs. An-nahl : 125
[5] Qs. Al ankabut : 45
[6] Qs. Ali imron : 159
musnad
abu ya'la (damaskus, darul
ma'mun litturots, 1984) hal. 306
[8] sholih bin Fauzan bin Abdullah Fauzan, i’anah
mustafid bi syarhi kitabit tauhid,)riyadh, muassasah risalah, 2002), V. 1, hal. 50
Komentar
Posting Komentar